Makna diksi Dalam Sebuah Puisi
🤔 Apakah makna diksi dalam puisi harus hidup?
🤔 Bagaimana cara memaknai diksi dalam puisi?
🤔 Sepertinya tidak penting?
Hmmmm... Akan sangat sulit pasti memahami kehidupan diksi dalam puisi dan membuat diksi benar-benar mewakili makna yang ingin disampaikan.
Oleh karena itu, saya akan mendongeng saja pada kesempatan kali ini, yang sekiranya dapat menggambarkan apa yang diharapkan oleh kita semua tentang pemahaman diksi ini. Sebab, teknologi juga punya kelemahan, kalau kita terlalu menggunakan bahasa formal, akan jarang sekali yang menangkap isinya. Bahkan orang yang memiliki tingkat fokus tinggi.
Ok, Kita lanjut!
Sebelum masuk dalam beberapa pertanyaan di atas, mari kita baca penggalan puisi berikut ini:
Puisi A.
Aku pergi dengan janji
Yang tak pernah kau tepati
Dan sakit hati ini
Tak pernah dapat kembali
Seperti semula lagi.
Puisi B.
Aku pergi ke dasar perih
Dengan rasa yang baru mengenal sedih
Dan luka yang mendera di ambang cinta
Telah aku semayamkan pada tarian warna jingga
Yang mendesah di sela-sela tubuh senja.
⬇️
Dari dua puisi ini saja kita bisa melihat puisi mana yang memiliki diksi lebih hidup. Kita bisa rasakan dari kedua puisi ini mana yang lebih bisa menghipnotis kita pada saat kita membacanya. Ada yang bertanya-tanya sembari mengerutkan kening, Maksud puisi ini apa, ya? Ada juga yang paham beberapa kata dan langsung menyimpulkan isi puisi tersebut. Ada pula yang tak tahu sama sekali makna dan tatanan diksi puisi itu, namun hanya tersenyum dan mengangguk, sebab bahasanya telah membawa perasaan pembaca menjadi pasrah diombang-ambingkan oleh alur puisi tersebut.
Tanpa kita setujui secara langsung dengan sidang atau diskusi formalpun, dapat kita simpulkan bahwa puisi B lebih bisa kita nikmati alurnya.
Mengapa demikian?
Jawabannya adalah karena pemilihan kata pada puisi A tidak memikirkan kehidupan diksi di dalamnya. Pembaca seakan dipaksa untuk mengikuti alur kaku dari puisi tersebut. Penulis seperti takut makna puisi tidak tersampaikan kepada pembaca. Memang dua puisi tersebut sama-sama bertema cinta. Namun, bukan berarti menuangkan rasa itu curhat dengan mentah, dong? Puisi yang kita sajikan harus bisa dinikmati oleh pembaca, meski berasal dari pengalaman sendiri, dan kebanyakan memang begitu.
Jadi, Apakah makna diksi dalam puisi harus hidup?
Tentu! Diksi adalah penyusun puisi yang paling terlihat. Dan dari pemilihan diksilah seorang penyair bisa diketahui cirikhas dan gaya yang mungkin akan menjadi identitas dalam karir kepenyairannya. Sebuah penyampaian makna, misteri, keindahan, musik, yang benar-benar sampai pada pembaca adalah sesuatu yang harus diperoleh oleh penyair. Puisi harus sampai sebagai puisi. Biarkan pembaca berimajinasi atau berargumen tentang puisi kita sesuka mereka, sebab itu yang membuat puisi menarik.
Jangan memilih diksi terang-terangan kepada pembaca, karena akan ada kematian puisi besar-besaran yang sangat terlihat.
Kak, puisi aku dari pengalaman pribadi. Lalu, bagaimana cara agar membuat pembaca ikut dalam diksi-diksiku?
Pertanyaan ini sudah pernah saya terima beberapa waktu lalu, dan cara saya menangani ini adalah dengan, Mengambil satu diksi sebagai inti.
Jadi, agar pengalaman pribadi kita bisa dinikmati oleh pembaca, kita perlu ambil satu diksi saja sebagai inti yang akan dimekarkan dalam bait-bait puisi.
Aku disakitin cowo/cewe, Kak. Diksi yang diambil apa ya?_
Ambil saja diksi, Luka atau Kecewa sebagai inti. Baru nanti dalam bait-baitnya kita mekarkan dengan pengalaman pribadi dan sedikit sentuhan latar suasana, tempat atau apapun yang mendukung pembaca masuk dalam ruang imajinasi puisi kita.
Memahami Diksi Lewat Tokoh
Ada banyak sekali tokoh yang bisa kita baca karyanya dan membuat kita memiliki gambaran dalam menghidupkan makna diksi puisi. Mulai dari Chairil Anwar, Sapardi Djoko Damono, Joko Pinurbo, Saut Situmorang, J Akid Lampacak, Kim Al Ghozali dan masih banyak lagi.
Mereka punya diksi khas sendiri-sendiri. Chairil Anwar akan jauh berbeda dengan Joko Pinurbo tentunya. Namun mereka tetap menjadi penyair yang dapat kita nikmati puisinya dengan khidmat. Sebab mereka tahu bagaimana meletakan roh pada setiap diksi pada puisi, caranya saja yang berbeda. Sampai di pembaca, tentu tidak sama dengan apa yang dimaksudkan penulis. Tapi mereka tak apa. Mereka senang dengan itu. Karena puisinya hidup dengan roh misteri di dalamnya.
Sapardi dan Saut Situmorang juga dua orang yang bertolak belakang. Cinta dan hal-hal romantis yang menjadi kebanyakan tema karya Sapardi. Sedangkan Saut lebih ke arah hal-hal sosial. Seperti kemiskinan, kelaparan, penindasan, dan tak jarang membuat hal yang kontroversial. Mereka adalah penakluk diksi yang hebat. Sehingga sampai pada puisi-puisinya, mereka tetap ada dalam kadar keindahan.
Sebait puisi sederhana Sapardi yang mampu membuat anak muda melompat adalah,
Mencintaimu harus menjelma Aku
Hanya dengan ini kita bisa merasakan sebuah ledakan di dada yang luar biasa. Sederhana dalam kata. Namun mewah dalam makna. Karena apa? Ada roh di dalamnya. Roh yang ditiupkan Sapardi sangat bedar. Bagaimana beliau membuat seakan duni hanya milik "aku dan kamu" dalam bait puisi di atas.
Sedang puisi Saut yang berjudul "Aku Ingin" sangat musikal sekali,
aku ingin mencintaiMu dengan membabi buta -
dengan sebotol racun yang diteguk romeo
tanpa sangsi yang membuat kematiannya jadi puisi
aku ingin kau mencintaiKu dengan membabi buta –
dengan sebilah belati yang ditikamkan juliet
ke dada sendiri yang membuatnya jadi abadi
Mungkin tak banyak yang tahu maknanya. Tapi, roh musiknya masuk dalam bentuk bunyi vokal di akhir kalimat. Maknanya bisa sangat dalam jika dianalisis. Bisa menjelma bayangan kisah romeo juliet, terbunuhnya sepasang kekasih, dan hal lainnya.
Ada banyak tokoh sastra di Indonesia. Mari ambil ilmunya. Meski tak bisa bertemu langsung, kita dapat mengambil ilmu dari karya yang tersebar di banyak media publik.
Kita sampai di akhir. Hanya Sedikit? Ya, memang demikian. Sepertinya halnya sekolah. 12 tahun kita mengeyam pendidikan dan kita masih bertanya perihal apa yang membuat daun hijau? Sepertinya sia-sia. Maka, mari kita berkomunikasi. Sebab komunikasi akan jauh lebih dapat dicerna daripada hanya mengurung diri dalam keningungan. Sayapun tak mau waktu kita habis untuk menuai kebingungan. Maka, mari berkomunikasi.
Mari kita tarik benang merah dari semua ini:
1. Diksi harus hidup dalam puisi sebagai roh dan alat penyampai makna dalam bentuk interpretasi masing-masing pembaca kepada puisi tersebut.
2. Menata sudut pandang dalam setiap peristiwa, dan belajar dari tokoh agar kita punya gambaran untuk menggambar sendiri makna diksi dalam puisi.
3. Menghidupkan diksi itu penting, sebab bait-bait puisi yang kita tulis memiliki titik tumpu pada setiap diksi yang kita gunakan. Semua akan benar-benar sampai jika pemilihan diksi kita juga benar-benar tepat. Jangan paksakan pembaca menggunakan satu sudut pandang dalam memaknai puisi dengan memilih diksi yang mematikan kenikmatan pembaca.

0 Comments